Kisah Hidup Tara Westover, Penulis Yang Mencuri Perhatian Bill Gates

0
1008

Kisah Hidup Tara Westover mulai mencuat, menjadi perbincangan publik yang hangat. Tak hanya pengusaha yang dibuat terkagum-kagum dengan bagaimana kisah hidup wanita cantik yang satu ini. Bahkan, sekelas Bill Gates ikut memberikan komentar positif atas apa yang Tara alami di sepanjang hidupnya, penasaran seperti apa? Yuk, kita simak bagaimana perjalanan hidup Tara.

Kisah Hidup Tara Westover Yang Mengharukan

Kisah Hidup Tara Yang Hanya Gadis Biasa. Bukan Anak Selebriti.

Tara bukan siapa-siapa. Bukan anak selebiriti, atau anak pengusaha yang bisa viral karena pengaruh nama Ayah dibelakangnya. Tara, dirinya baru dikenal ketika Ia berhasil memulai debutnya sebagai penulis di tahun 2018. Saat itu juga, nama Tara melejit karena bukunya menjadi buku yang paling laris pada masa itu. Banyak yang menaruh perhatian pada Tara karena seluruh cerita yang Ia tuang dalam buku tersebut ternyata adalah perjalanan hidupnya.

Mulai Sekarang, Jangan Pernah Minder Sekolah

Merasalah bersyukur karena kamu sudah pernah mengenyam bangku pendidikan, seperti SD, SMP, atau bahkan SMA. Pasalnya, Tara tidak pernah merasakan semua itu loh. Di umur 17 tahun, ia baru bisa menikmati bangku sekolah, dengan langsung duduk di bangku kuliah. Perjalanannya untuk menuntut ilmu juga tidak selalu mulus. Ia sering putus sekolah, tidak lain karena urusan finansial dan biaya asrama.

Bersyukurlah, karena kondisimu saat ini, orangtua tetap membiayai sekolah kamu, terlepas itu adalah sekolah favorit atau sekolah buangan, apapun itu.  Penasaran mengapa orangtua Tara sama sekali tidak mau membiayai pendidikan Tara? Mungkin wajar, jika Tara kehilangan ayah atau ibu atau bahkan kedua orangnya. Namun, banyak orang dibuat heran karena Tara masih memiliki keduanya. Bagaimana mungkin anak ini tidak sekolah?

Bersyukurlah, Kamu Punya Keluarga Yang Indah.

Tara tinggal bersama kedua orangtuanya dan terlahir bersama enam saudaranya. Dirinya adalah anak bungsu. Gadis cantik ini lahir di tahun 1986 dan hidup bersama keluaga Mormon di Idaho, Amerika. Ibunya bernama Faye, seorang herbalis. Sementara itu, Ayahnya bernama Gene, yang mengklaim bahwa dirinya punya kekuatan seperti seorang nabi. Kisah hidup Tara begitu kurang beruntung karena Ayahnya tidak percaya dengan pendidikan formal. Itulah mengapa seluruh anaknya belajar di rumah.

Selain itu, Ayahnya, entah bagaimana percaya bahwa di akhir dunia nanti seluruh fasilitas medis akan dilarang. Bahkan, masih melekat dalam ingatan Tara ketika ia harus dipukuli habis-habisan oleh saudara laki-lakinya karena menjalin pertemanan dengan temannya di lingkungan rumah. Tara, jika sakit juga tidak perlu ke dokter karena Tuhanlah yang nanti akan menyembuhkan. Setiapselesai makan malam, Ayahnya rutin mengadakan pengajian dimana semua anaknya harus ikut. Dibacanya Al Kitab dan semua ayat pun dibaca. Pengajian ini selalu dilakukan selama dua jam setiap hari.

Beberapa peraturan ketat pun ikut memenuhi kisah hidup Tara Westover. Dirinya dibesarkan dengan larangan berpakaian celana pendek, tidak boleh memperlihatkan paha dan kaki, juga tidak boleh pakai make up. Semua aturan tersebut dibuat dengan dalih dosa dan neraka. Bahkan, Ia dan saudara-saudaranya tidak boleh menerima bantuan karena itu seperti menjual kebebasan mereka.

Kehidupan yang diinginkan ayahnya benar-benar primitif. Tara sebagai anak perempuan, maka tugasnya adalah di dapur. Kemudian, nanti di umur 15 atau 17 harus siap dijodohkan. Sedangkan saudara laki-lakinya harus bekerja di ladang ayahnya. Selesai bekerja, mereka akan menerima gaji dan orang tua tidak mau memenuhi kebutuhan atau biaya hidup mereka lagi.

Seiring berjalannya waktu, Ayahnya menjadi semakin refresif dan bahkan kakaknya semakin kejam. Ayahnya terlalu sering marah-marah, hampir tiap hari karena ada saja yang salah. Anak-anak yang bermalas-malasan pasti akan kena marah. Ancaman dan doktrin sang ayah tentang surga, neraka, dan kiamat terus dijejalkan setiap hari.

Kisah Hidup Hanya Bisa Berubah Dengan Mencari Peluang

Sampai karena lelah dengan semuanya, Tara memutuskan untuk pelan-pelan mencari jalan keluar. Ia mempelajari bagaimana hari-harinya di rumah. Sampai kemudian, ia punya inisiatif untuk merubah kisah hidup. Ketika pagi sampai siang, ayah dan saudara laki-lakinya sibuk di ladang dan di gunung. Tara yang masih berumur 11 tahun pun mengumpulkan seluruh tekadnya. Ia, sendirian mengayuh sepeda hingga 1 mil untuk bekerja dan mengumpulkan uang sendiri. Di salah satu toko grosir di kota itulah ia pun bekerja.

Suatu saat, sang pemilik toko berencana untuk pergi jauh. Tara yang Ia lihat punya potensi dan kejujuran pun Ia percaya untuk menjaga toko. Tara belajar banyak hal dari sang pemilik toko, seperti cara mengurus administrasi penjualan, membuka komputer dan bagaimana mengoperasikannya, cara browsing, dan cara mengirim email. Tak tanggung-tanggung, sang pemilik toko juga membekalinya HP supaya dapat mengontrol Tara kapanpun.

Tara pun mulai beranjak dewasa. Di usia 12 tahun, Tara sudah bisa mengoperasikan komputer dan punya tabungan. Ia juga disarankan sang kakak yang berusia 15 tahun dan sudah berumah tangga, agar masuk sekolah. Tara tentu kegirangan. Kakak sulungnya mulai berubah semenjak Ia tinggal di kota lain dengan pandangan hidup yang lebih modern.

Ketika Tara sering ikut latihan tari diam-diam, ia pun mendapatkan tawaran untuk menyanyi. Tara menghadapi ayahnya untuk mendapatkan ijin tersebut, tanpa membenci sosok ayahnya itu. Ia hanya tak berhenti merajuk. Entah diapakan saja dirinya, ia tetap mampu mengambil hati Ayahnya. Sampai ketika Ayahnya melihat dirinya pentas, Ayah tak berhenti memuji dan merangkul tubuhnya itu. Tara juga diam-diam belajar, dibantu ibunya yang dulu pernah sekolah. Diam-diam juga mendekati ayahnya untuk memecahkan soal Matematika tanpa membuat Ayahnya curiga. Diterimalah ia di sebuah universitas.

Tara melakukan banyak hal, termasuk memberanikan diri untuk pamit sekolah di umur 17 tahun. Apapun yang dilakukan Tara, ayah meresponnya dengan marah, di awalnya. Namun, pada akhirnya sang Ayah selalu memberikan izin. Kali ini, Tara tidak dibekali satu sen pun. Bagi Tara itu bukan masalah. Ia sudah punya tabungan dari hasil kerja diam-diamnya itu.

Jangan Benci, Hanya Karena Oranglain Punya Alasan Yang Tidak Bisa Kamu Terima.

Saat wisuda, Tara menjadi juara, namun Ayahnya sudah tidak pernah muncul lagi. Bagi Ayah, Tara sudah terlalu jauh tersesat dengan semuanya. Bahkan, ketika Tara memperoleh beasiswa, sang Ayah juga tak menunjukkan batang hidungnya. Saat itu, Tara mendapatkan beasiswa dari Cambridge University, London. Ya, salah satu univeristas terbaik di dunia.

Ujian datang lagi, Tara tidak memiliki paspor. Sampai akhirnya adik ibu, bibinya bersumpah untuknya di pengadilan bahwa Tara lahir di tanggal tersebut, tanggal yang dipilih Tara sendiri. Tara pun berhasil menemukan dunianya. Di kampus, Tara mampu membuat guru besarnya terpana karena karya tulis perdananya. Bagi sang guru besar, tidak ada yang mampu menyaingi tulisan Tara.

Lagi, Tara dapat beasiswa hingga membawanya ke tingkat Doktor. Beasiswa tersebut didapatkan karena sang guru besar mengakui bahwa tulisan Tara sudah sampa seperti disertasi doctor. Ia pun diberikan akses untuk belajar di Cambridge atau Harvard. Tara pun memutuskan untuk di Campgridge dan tetap mengambil pendidikannya di Harvard walau hanya enam bulan.

Suatu hari ayah dan ibunya datang ke Boston, hendak menginsyafkan Tara. Tara disuruhnya tidur di lantai. Ibunya tidur di kursi. Sedangkan ayahnya di kasur, yang mana semuanya ini bagi Ayah adalah “Ritual taubat”. Karena tidak ada hasil, ayahnya pun pulang dengan rasa kecewa.

Umur 27 tahun, Tara berhasil dengan gelar doktor. Filsafat sejarah adalah materi disertasinya yang diangkat dari Gereja Mormon. Judul disertasinya adalah: The Family, Morality, and Social Science in Anglo American Cooperative Thought, 1813-1890. Tepat di tahun 2014, Disertasi ini bikin Tara berhasil bergelar doktor.

So, buat kamu yang juga merasa tidak pernah beruntung dalam hidup, semoga setelah membaca kisah hidup Tara yang benar-benar mengoyak jiwa ini bisa membuat lebih bersemangat dan merasa termotivasi untuk belajar, bekerja keras dan meraih semua mimpi kamu sesuai tujuan yang kamu harapkan.

Bill Gates turut memberikan komentar positifnya terhadap Educated, buku Tara ini. Dalam websitenya, Bill Gates menulis:

“Tara’s process of self-discovery is beautifully captured in Educated.”

Bahwa, proses menemukan jati diri yang dilakukan Tara begitu tergambar sangat indah.

Nah, kamu juga bisa membaca cerita inspiratif lainnya dari Menteri Susi loh.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

twenty − four =